Sabtu, 13 Januari 2018

KE BAIKAN



KE BAIKAN
Terbangunkan suara alarm telepon seluler xiaomi redmi 4A yang telah di setel jam setengah empat subuh, yang mana pagi itu seperti pagi kemarin dimana ada banyak embun sisa-sisa serangan ringan air hujan semalam. Maklum, memang beberapa bulan ini, alam sedang dilanda tren, yang membuat siapa saja enggan melakukan aktifitas di luar rumah. Aku  memulai pagi dengan membuka mata, lalu mengernyipkan sebentar dan dilanjutkan tidur lagi. Saat itu tenagaku seakan-akan hanya sekuat bocah ingusan yang gigi serinya pun belum genap delapan buah, dan besar lengannya tak lebih besar dari dahan pepaya. Begitu lemahnya tenagaku untuk menyangga tegak pundak dan meminta bantuan peraduan untuk aku titipi semua anggota gerak dari atas hingga ke tungkak. 

Seperti itukah waktu? Bengis, sadis, buas jauh lebih sadis dari Kim Jong Un sang pembunuh paman sendiri dengan ditelanjangi dan dijadikan menu istimewa pake dobel telur, asu-asu binal untuk menghapus kotoran faksionalis. Musuh yang benar-benar nyata yang memberi hanya dua pilihan, menyerah atau melawan, tanpa ada pilihan ketiga yakni gencatan senjata. Bersenjatakan perubahan, kita dipaksa terus berlari oleh sesuatu hal yang asam laktat pun dia tak punya. Mati terlindas oleh alterasi yang dibawanya, atau ikut permutasi yang ditawarkannya.

Kumatikan alarm telepon selularku yang kedua, setelah aku setel digitalnya agar membangunkanku saat detik pertama jam enam pagi. Ya, memang saat itu, atau bahkan hingga saat ini, tanpa sadar kujauhkan kepalaku dari lantai sebagai isyarat dari pengakuan atas kelemahanku menghadapi waktu. Pengakuan sebagai pra syarat, agar tidak terlalu berat berlari. Pengakuan sebagai bentuk perjanjian dengan penguasa akhir zaman, dimana selalu bersedia mendorong, menyemangati, dan menolong. Pengakuan yang sebenarnya mudah dilakukan. Lupa dan malas seakan tergabungkan. 

Setelah melalui berat, dua alarm yang telah sibuk mengganggu tidurku, aku berjalan menyusuri ruang TV dan ruang makan, untuk menuju ke dapur. Kucandak plenger motor revo 110 cc, kutarik kebelakang, sambil ku buka pintu dapur, agar dapat menurunkan standart tengah motor di halaman luar. Kudongakkan kepala dan bergumam “hari cerah”. Memang tampak biru menjulang, langit perkasa dengan diselipi awan strato kumulus dari kejauhan. Andai saat itu kupegang Cannon 5D dengan lensa wide, tak akan aku tulis uraian keindahannya. Cukup kutampilkan goresan piksel sebagai pengganti paragraph delapan puluh kata.