KE BAIKAN
Terbangunkan
suara alarm telepon seluler xiaomi redmi 4A yang telah di setel jam setengah
empat subuh, yang mana pagi itu seperti pagi kemarin dimana ada banyak embun
sisa-sisa serangan ringan air hujan semalam. Maklum, memang beberapa bulan ini,
alam sedang dilanda tren, yang membuat siapa saja
enggan melakukan aktifitas di luar rumah. Aku memulai pagi dengan membuka mata, lalu
mengernyipkan sebentar dan dilanjutkan tidur lagi. Saat itu tenagaku
seakan-akan hanya sekuat bocah ingusan yang gigi serinya pun belum genap delapan
buah, dan besar lengannya tak lebih besar dari dahan pepaya. Begitu lemahnya
tenagaku untuk menyangga tegak pundak dan meminta bantuan peraduan untuk aku titipi
semua anggota gerak dari atas hingga ke tungkak.
Seperti
itukah waktu? Bengis, sadis, buas jauh lebih sadis dari Kim Jong Un sang
pembunuh paman sendiri dengan ditelanjangi dan dijadikan menu istimewa pake dobel
telur, asu-asu binal untuk menghapus kotoran faksionalis. Musuh yang benar-benar
nyata yang memberi hanya dua pilihan, menyerah atau melawan, tanpa ada pilihan ketiga
yakni gencatan senjata. Bersenjatakan perubahan, kita dipaksa terus berlari
oleh sesuatu hal yang asam laktat pun dia tak punya. Mati terlindas oleh alterasi
yang dibawanya, atau ikut permutasi yang ditawarkannya.
Kumatikan
alarm telepon selularku yang kedua, setelah aku setel digitalnya agar membangunkanku
saat detik pertama jam enam pagi. Ya, memang saat itu, atau bahkan hingga saat
ini, tanpa sadar kujauhkan kepalaku dari lantai sebagai isyarat dari pengakuan
atas kelemahanku menghadapi waktu. Pengakuan sebagai pra syarat, agar tidak
terlalu berat berlari. Pengakuan sebagai bentuk perjanjian dengan penguasa
akhir zaman, dimana selalu bersedia mendorong, menyemangati, dan menolong.
Pengakuan yang sebenarnya mudah dilakukan. Lupa dan malas seakan tergabungkan.
Setelah
melalui berat, dua alarm yang telah sibuk mengganggu tidurku, aku berjalan
menyusuri ruang TV dan ruang makan, untuk menuju ke dapur. Kucandak plenger motor revo 110 cc, kutarik
kebelakang, sambil ku buka pintu dapur, agar dapat menurunkan standart tengah
motor di halaman luar. Kudongakkan kepala dan bergumam “hari cerah”. Memang
tampak biru menjulang, langit perkasa dengan diselipi awan strato kumulus dari
kejauhan. Andai saat itu kupegang Cannon 5D dengan lensa wide, tak akan aku tulis uraian keindahannya. Cukup kutampilkan
goresan piksel sebagai pengganti paragraph delapan puluh kata.