Kamis, 01 Maret 2018

Kasih sayang Mu

Tujuh puluh sembilan hari
Angka tepat saat ku tulis ini
Otak berisi racun hati berisi duri
Malas meminta malas mencari

Saat kotor ini aku meminta
Bak banjir dalam tempayan
Kasih itu tak sejauh depa
Sayang itu lebih besar dari nampan

Banyak hal yang telah kulewatkan
Dengan percuma kubiarkan
Namun tetap kau lebih tahu
Bijaksana dan maha berilmu

Maaf ibu hatiku sekeras batu

Pagi ini pukul lima
Kau pun juga merasa
Mataku masih tertinggal dimimpi
Hidungku masih diam seperti kaki

Telah jauh kau buang rasa malas
Di belakang punggung mu sejauh seratus depa
Seakan tak ada beban menggantung ikhlas
Pikirmu hanya berisi besok makan apa

Aku belum sadar engkau baik
Tampak salah dari ubun-ubun hingga ke jari kaki
Aku melihat dengan mata sempit
Yang kau lakukan seriap pagi

Akankah tetap menjadi sawah?

Hijau teduh mendayu
Terbentang dibawah dagu
Sejauh mata tertuju
Bak permadani berbulu

Pandanganku mulai samar untuk mengingat
Sebuah permadani yang pernah kulihat
Tertinggal hanya hamparan sekat
Sebuah batu putih pekat

Apakah ini memang kemajuan
Ataukah bentuk keserakahan
Apakah bentuk kebodohan
Akal licik pialang tanah berbalut lapar petani.

Dalam diri

Sepi ini
Entah seberapa lama
Bergelayut di diri
Tanpa hasrat

Menumpuk tanya
Benarkah diri ini
Tanpa makna
Tanpa arti