Pernah sehari dirundung bahagia
Saat belum sempat kurasakan
Terpikir dari pagi hingga siang
Satu persatu pasti dan selalu datang
Hingga banyak dan buatku kalah hari ini
Belum ada judul
Senin, 03 September 2018
Saat dipasung bulan
Andai malam ini kepalaku terkalung pasung.
Antara kayu terikat ujung bulan yang pernah kulihat.
Nadir mengkerut menjadi lebam.
Gah tak tampak walu coba kutunjukkan
Hingga bibir ini tak mampu
Itulah batas diantara batas.
Gurau canda pun aku lupa caranya
Itu takkan aku lewatkan satu pikiran
Aku sayang kau
Antara kayu terikat ujung bulan yang pernah kulihat.
Nadir mengkerut menjadi lebam.
Gah tak tampak walu coba kutunjukkan
Hingga bibir ini tak mampu
Itulah batas diantara batas.
Gurau canda pun aku lupa caranya
Itu takkan aku lewatkan satu pikiran
Aku sayang kau
Senin, 20 Agustus 2018
Harapan yang Tertunda
Sebuah harapan manusia sering tak sejalan dengan jalannya takdir penciptanya. Pernah merasa kecewa. Marah, tapi sebenarnya tidak tahu siapa yang salah. Gusar tapi seakan tak berdaya di peluk gundah.
Kurang lebih, seperti itulah yang kurasakan, saat duduk di depan komputer, melihat hasil kerja kerasku selama 3 bulan yang lalu. Melalui tiga tes yang salah satunya adalah lomba renang dengan jarak 50 detik dari garis start. Berenang secepat Richard Sam Bera tak membuatku meraih posisi aman kempetisi dengan sepuluh ribu peserta.
Hari diawali jam 07.00 pagi dengan memanasi Supra Fit biru menuju utara. Begitulah kegiatanku setelah tidak lagi bekerja di Surabaya tiga bulan yang lalu. Mencoba memperbaiki apa yang seharusnya menjadi baik. Mulai belajar lagi aturan-aturan baku kehidupan yang ditulis dalam kitab suci.
Siapa yang tak tertarik mendengar santer pengumuman di media masa mengenai penerimaan pekerja pemerintah. Dengan gaji perbulan yang tentu cukup untuk makan, minum, dan menabung tentu menggoda idealisme bahwa wirausaha merupakan pekerjaan yang ideal. Andaikan kucing memiliki otak, tentu dia bakal segera ke kelurahan untuk melengkapi berkas.
Sedikit demi sedikit mengumpulkan berkas dimulai dari termudah mendapatkannya. Yaitu fotokopi KTP KK. Esoknya perlahan tapi pasti merambah ke Surat Keterangan Catatan Kepolisian, dengan tanda tangan kapolresta malang. Sambil menunggu jadi, nge gas ke kampus untuk medapatkan stempel legalisir bertanda tangan direktur utama.
Semua kudapatkan dalam tiga hari kerja dan sehari wara-wiri jalan protokol Malang. Tentu ditambah daftar online dan kirim berkas ke kantor pos terdekat. Jauh sebelum penerimaan administrasi, saya coba isi hari dengan persiapan memenuhi persyaratan terkahir, yakni wajib bisa berenang. Melebar dan memanjang di kolam renang menjadi agenda setiap hari.
Sebulan berjalan tibalah saatnya ujian tertulis pertama. Dilalui dengan nilai tertinggi di kelasnya. Tiba tes kedua yakni, meniti lintasan olimpiade, lima puluh meter kedepan garis start. Sebelum detik ke enam puluh sudah menyentuh tembok finish.
Tiba Saatnya pengumuman di tampilkan. Dengan hasil yang tidak memuaskan dan kalah dengan peringkat ke empat. Sebenarnya ingin menungkapkan kekesalan. Protes tapi ke siapa? Entah berapa hari, baru tersadar bahwa ada hikmah dibalik semuanya. Entah harus kemana lagi, yang jelas saat ini fokus menanamkan kening di hampir ujung lembaran sajadah.
Kurang lebih, seperti itulah yang kurasakan, saat duduk di depan komputer, melihat hasil kerja kerasku selama 3 bulan yang lalu. Melalui tiga tes yang salah satunya adalah lomba renang dengan jarak 50 detik dari garis start. Berenang secepat Richard Sam Bera tak membuatku meraih posisi aman kempetisi dengan sepuluh ribu peserta.
Hari diawali jam 07.00 pagi dengan memanasi Supra Fit biru menuju utara. Begitulah kegiatanku setelah tidak lagi bekerja di Surabaya tiga bulan yang lalu. Mencoba memperbaiki apa yang seharusnya menjadi baik. Mulai belajar lagi aturan-aturan baku kehidupan yang ditulis dalam kitab suci.
Siapa yang tak tertarik mendengar santer pengumuman di media masa mengenai penerimaan pekerja pemerintah. Dengan gaji perbulan yang tentu cukup untuk makan, minum, dan menabung tentu menggoda idealisme bahwa wirausaha merupakan pekerjaan yang ideal. Andaikan kucing memiliki otak, tentu dia bakal segera ke kelurahan untuk melengkapi berkas.
Sedikit demi sedikit mengumpulkan berkas dimulai dari termudah mendapatkannya. Yaitu fotokopi KTP KK. Esoknya perlahan tapi pasti merambah ke Surat Keterangan Catatan Kepolisian, dengan tanda tangan kapolresta malang. Sambil menunggu jadi, nge gas ke kampus untuk medapatkan stempel legalisir bertanda tangan direktur utama.
Semua kudapatkan dalam tiga hari kerja dan sehari wara-wiri jalan protokol Malang. Tentu ditambah daftar online dan kirim berkas ke kantor pos terdekat. Jauh sebelum penerimaan administrasi, saya coba isi hari dengan persiapan memenuhi persyaratan terkahir, yakni wajib bisa berenang. Melebar dan memanjang di kolam renang menjadi agenda setiap hari.
Sebulan berjalan tibalah saatnya ujian tertulis pertama. Dilalui dengan nilai tertinggi di kelasnya. Tiba tes kedua yakni, meniti lintasan olimpiade, lima puluh meter kedepan garis start. Sebelum detik ke enam puluh sudah menyentuh tembok finish.
Tiba Saatnya pengumuman di tampilkan. Dengan hasil yang tidak memuaskan dan kalah dengan peringkat ke empat. Sebenarnya ingin menungkapkan kekesalan. Protes tapi ke siapa? Entah berapa hari, baru tersadar bahwa ada hikmah dibalik semuanya. Entah harus kemana lagi, yang jelas saat ini fokus menanamkan kening di hampir ujung lembaran sajadah.
Minggu, 18 Maret 2018
Jalan Setapak dan Setitik Cahaya (Sambung 3)
“Assalamualaikum,
dek ” suaraku sambil mengiringi ketuk pintu. “ waalaikum salam, iya mas
bentar.” sahutnya diiringi suara langkahnya. Dibukakan pintu rumah yang telah
dia tempati hari ini. Rumah hasil dari kerja kerasnya dan hasil jualan
onlineshop istrinya.
“Mas, kemaren
ibuk ke rumah, kangen Ana.” Kata istri Dimas. “Lho iya kah?kok gk ketemu?”
jawabnya. “Ih, Mas Dimas sih, gak pernah di rumah.” Jawab sang istri. “hemm,
ngomong aja kalo kamu kangen,” sahut dimas menggoda istrinya. ”hehe” ketawanya
simpul. Ketawa yang menggantung dalam bintik buta matanya saat hampir terlelap.
“cling, mas.”
Langsung aku lihat di widget whatsapp. Gawai
aku buka, dari nomor yang sama seperti yang aku lihat selepas isak tadi. “oh bu Rahma, ngapain malam-malam, chat?” pikirku. “Ada apa mas?” tanya
istriku. “Oh Cuma donatur” jawabku. Segera aku simpan gawaiku.
“ Mas ngantuk,
” “tidur dulu saja dek” sahutku. Seperti biasa tangan Dimas menekan tombol
remot untuk nyalakan Televisi, dan saat itu Filmnya the dark night rises.
Sambil iseng, tangannya membuka gawai yang ada di genggamnya. Entah jari ini
tak mau kompromi, tetiba tertekan chat dari bu Rahma yang sebenarnya dihindarinya
tadi. Memang sudah menjadi adatnya, harus jawab pesan yang sudah terbuka. “iya
bu” jawabnya.
“Mas Dimas
besok bisa minta tolong enggak buat ngambil lagi di rumah?” isi pesannya. “Iya
bu bisa, kok ngambilnya setiap hari bu? Yang ini atas nama siapa?” tukas Dimas.
“Atas nama pribadi, Mas.” Jawabnya.
“Oh siap bu,
ibu bisa ditemui jam berapa?” tanyaku menyahut. “ Jam 7 pagi, kalau Mas Dimas
tidak keberatan, malam ini juga gak papa kok mas.” Jawabnya.
“Mohon maaf bu
tidak bisa kalau malam ini.”
“Tidak papa
mas, saya gak ada yang marahi kok. ”
“Mohon maaf
bu, jika anda memaksa, nomer ini saya blok.”
“Mas Dimas
sudah beristri?”
“Iya bu, ”
“Andaikan kita selalu dikelilingi oarang yang kita
sayang.”
“Bukankah Semua
orang selalu bersama orang-orang yang dia sayang?” jawab dimas.
“Tidak semua
orang diberi anugerah seperti itu. Tidak semua beruntung seperti halnya Mas
Dimas, yang saat ini mungkin sedang bergurau dengan istrinya, menikmati mandi
malam karena air kencing anak balita.”
“Bukankah ibu
telah bersuami?”
Jalan Setapak dan Setitik Cahaya (Sambung 2)
“Assalamualaikum,
dek berangkat.” ”iya mas.” Jalan malam itu memang lebih gelap dari biasanya. “Assalamualaikum
warahmatullohi wabarokaatuh.” Sapaan ustadz mengawali kajian hari ini setelah
berakhirnya sholat maghrib jamaah. “wa alaikum salam warohmatullahi wa
barokatuh.””Bapak ibu sekalian har ini kita akan membahas mengenai fiqh zakat.”Pas, banyak sekali yang ingin kutanyakan.” Pikir
Dimas sambil menyulam kata dan merajut daftar kalimat tanya dalam benak.
“Tentunya
semua hadirin, sudah mengetahui fungsi dan arti zakat. Membagikan kebahagiaan
kepada mereka yang kesusahan. Dalam membagikan zakat ada delapan asnaf yang
telah disebutkan alquran. Mulai dari fakir, miskin, amil, budak, ghorim,
muallaf, fi sabilillah, ibnu sabil.” Paparan ustadz hingga sesi tanya jawab.
“Ustadz jika
seorang amil mendapat pemberian dari muzaki saat mengambil zakat, hukumnya
bagaimana?”tanya Dimas memulai pertanyaan.”tentu saja haram, hal ini sesuai
dengan riwayat saat sahabat nabi mengambil zakat di negeri syam. Saat itu, Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam memperkerjakan seorang laki-laki dari suku al-Azdi
yang bernama Ibnu Lutbiah sebagai pemungut zakat. Ketika datang dari tugasnya,
dia berkata: “Ini untuk kalian sebagai zakat dan ini dihadiahkan untukku”.
Beliau bersabda : ” Cobalah dia duduk saja di rumah ayahnya atau ibunya, dan
menunggu apakah akan ada yang memberikan kepadanya hadiah ? Dan demi Dzat yag
jiwaku di tangan-Nya, tidak seorangpun yang mengambil sesuatu dari zakat ini,
kecuali dia akan datang pada hari qiyamat dengan dipikulkan di atas lehernya
berupa unta yang berteriak, atau sapi yang melembuh atau kambing yang
mengembik”. Kemudian beliau mengangkat tangan-nya, sehingga terlihat oleh kami
ketiak beliau yang putih dan (berkata,): “Ya Allah bukan kah aku sudah
sampaikan, bukankah aku sudah sampaikan”, sebanyak tiga kali. ”.
“Cling,”
sebelum kajian berakhir tetiba gawai Dimas berbunyi, dengan bunyi khas chat whatsapp masuk. Dengan mengernyitkan
dahi dan mengelus jenggotnya, dia membuka chat yang telah sampai di gawai
tersebut. “Selamat malam mas Dimas.” Kalimat yang tertera dalam aplikasi
tersebut. Cuek, tak peduli dengan tulisan tersebut dan dimasukkan lagi ke dalam
saku celana.
Berjalan
pulang tanpa ada pikiran buruk. Bayangan Dimas melayang sampai dirumah dan
berharap ada yang menyambut dan mengajaknya ngobrol remeh. “Pak Dimas mari.” Sapa
ustadz dari belakang. “iya mari” jawab Dimas singkat.
“Cling ,”
sekali lagi masuk chat dari nomer yang sama.”benar ini pak Dimas?”
isi pesan tersebut. Dimas mulai tertarik membalasnya “iya benar ini Dimas, Ini
siapa ya?”.”Ini Rahma, yang tadi anda ambil donasinya.” Jawab pasan singkat
tersebut.
“Oh bu Rahma,
ada yang bisa saya bantu bu? Oh ya dapat nomer saya darimana bu?” balasku. “Dari
kartu nama yang kemarin saya dapat di selipkan majalah.” “oh iya, ada yang bisa
saya bantu, bu?” balasku lagi. “Hehehe, enggak, nomer ini saya simpan ya,
barangkali ada keperluan.”tulisnya. “Iya bu silahkan.” Tukasku.
Langganan:
Postingan (Atom)