Selasa, 23 Januari 2018

Cemoro sewu - hargo dumilah

Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami manusia-manusia yang tidak percaya slogan. Patriotisme tidak mungkin tambah dari hipokritis dan slogan-slogan. Seseorang dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau dia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung

Sepenggal kata-kata seorang Soe Hok Gie sebelum dia meninggal di puncak Semeru. Soe hok Gie, seorang pemuda Indonesia keturunan China yang kuliah di kampus Univesitas Indonesia. Memiliki nama yang sangat berpengaruh di dunia pendakian dan sebagai pencetus istilah  “pecinta alam”.
Saya mengawali tulisan ini dengan mengenalkan pada anda bahwa dengan naik gunung kita bisa mendapatkan fisik yang sehat dan jiwa yang sehat. Perjalanan yang membutuhkan banyak tenaga ditambah beban berat berisi perbekalan yang memang harus dibawa, memaksa kita untuk meningkatkan stamina dan energy dengan setiap hari latihan. Serta medan yang menanjak ditambah kondisi alam yang tidak bisa diprediksi membuat kita terpaksa menguatkan mental agar mampu ke puncak dan turun dengan selamat. Belum lagi menekan ego pribadi jika harus memuncak bersama tim dan rekan.
Cemoro sewu sebagai langkah awal dalam menyusuri hutan lawu yang saat ini sudah tidak lagi perawan. Sudah disiapkan jalur pendakian menuju puncak berupa tupukan batu yang tersusun rapi menyerupai anak tangga tapi lebih tinggi dari hotel Indonesia.
8 Juni 2012, Jam 4 sore waktu Magetan, aku tiba dengan Supra Fit ku setelah berkendara selama 8 jam dari kota malang, bersama seorang teman dan seperangkat perbekalan khas amatiran. Ya, bisa dibayangkan rasa panas dan kapalan di sekitar pantat, setelah lebih kurang 250 kilometer diatas jok dengan kapasitas dua orang dan dua tas ransel. Sebelum ke pintu masuk, kami sempatkan menyambangi tukang cilok di pinggir jalan dusun ngancar desa plaosan, dimana pintu pendakian cemoro sewu berada. Menikmati rasa cilok yang hangat di tengah dinginnya udara lawu yang berkabut, rasanya seperti hidup tanpa hari Senin. Andai akses internet seperti sekarang, pasti aku tidak hanya mampir di tukang cilok. Sate kelinci dan bisnis “nikmat” ternyata menjadi ciri khas desa ini. “Sedikit menyesal sih, tp beruntung juga gak nambahi dosa” gumamku saat menulis ini.
Penat duduk di atas jok sudah mulai rontok, aku mulai mencari rumah warga yang bersedia aku repoti buat nitip kekasihku beroda dua bermerek Honda yang masih setia menemaniku hingga 10 tahun lamanya. Kudapatkan rumah warga yang cocok dengan tambahan fasilitas penitipan helm dan beberapa perbekalan yang kurang dibutuhkan seperti celana dan alat penerangan. Dengan membayar tiket sepuluh ribu rupiah perhari, aku pasrahkan Hondaku kepada pemilik rumah yang kelihatannya penyabar dan penuh welas asih.
Setelah mengucap doa dan salam kepada pemilik rumah, aku keluar dan berjalan ke arah kiri rumah menuju pintu masuk pendakian. Dalam perjalanan, sepintas tampak seorang berbaju lurik menyanding udeng di bahunya, serta menghiasi jarinya dengan akik warna merah sebesar rumah bekicot. Dalam hatiku bergumam “Sedikit mantra dan doa selamat, mungkin bisa aku minta dari mbah ini”. Berjalan semakin mendekat kearah pintu masuk, secara tiba-tiba ada yang memangglku. “mas tiketnya tiga puluh ribu dolar dua orang”. “Inggih pak” jawabku pada sosok baju lurik yang sempat kukira dukun. “selamat menikmati mas asalkan jangan melanggar pantangan ya mas” imbuhnya.
Setelah ritual selfie diri, tepat jam lima sore, kaki mulai melangkah masuk menuju jalur hutan lawu. Dengan disambut kebun cemara dan permainan keluarga kami percaya diri buat menaklukkan gunung yang katanya jantung pulau jawa. Gunung berkabut mistis dan lumayan sering menawarkan kematian bagi pendaki yang kurang ajar. Awal perjalanan kami lalui dengan tenang. Setingkatdemi setingkat berjalan menuju atas dengan sesekali memotret diri, di titik titik yang dianggap pantas.
“Alhamdulillah sendang panguripan” gumamku. Merupakan suatu pencapaian yang istimewa bagi amatir, yang sebenarnya belum mencapai ujung kuku dari perjalanan menuju puncak. Setelah mengisi air yang kami anggap bertuah, lanjut berjalan menuju pos dua yang letaknya lebih atas. Ditemani burung jalak yang seakan menunjukkan arah puncak, kami berjalan dipayungi awan gelap menyisir gelapnya maghrib. Semakin melangkah, semakin keatas, belum ada tanda-tanda muncul benih bintang dari langit.
Pos dua, kami saat ini berada. “Sudah maghrib rupanya. Waktunya sholat biar selamat” kataku. Aku pasang sarung yang telah dibawa dari rumah untuk bersujud menghadapnya. “allohu akbar” langsung teringat “heh kiblatnya mana”. Kubatalkan sholatku untuk sementara dan melihat kompas digital yang terinstal di BlackBerry temanku. Setelah mencoba beberapa kali membuka kompas, tetapi tidak terbuka. Alam memang menyediakan segalanya bagi kita terkecuali layanan provider seluler saat di pos dua gunung lawu. Dengan berbekal ilmu nekat ala Mcgyver, aku mencoba menalar kiblat, dari arah kita masuk dan jumlah belokan. Saat akan mengucap niat, awan yang tipis sedikit membuka dan memperlihatkan konstelasi bintang gubung penceng yang menunjukkan arah tenggara. Kumantapkan hatiku kearah kiblat setelah dua kali balik kanan. Sholat berjalan dengan khusyuk walaupun beralas plastik yang ditumpuki sajadah.
Setelah memakan sepotong roti dan sebungkus beng-beng kami melanjutkan perjalanan. Hari semakin gelap, ditambah angin kencang seraya mengajak pohon untuk paduan suara. Suara alam dalam gelap mencekam menemaniku selama perjalanan. Terasa titik air hasil kondensasi alam, mulai menyapa ramai wajahku. Entah pikiran darimana tiba-tiba teringat kabar yang kubaca dari surat kabar seminggu sebelumnya. Dua remaja ditemukan dengan mulut kaku terpengap di jalur pendakian gunung lawu. Ya, dua orang pendaki tanpa peralatan lengkap nekat menembus gunung lawu yang sarat suasana mistis dan magis. Hari semakin malam, angin semakin kencang, butiran hujan semakin deras menghempas keras. Saat itu, tak lagi terpikir sajak 80 kata, tak lagi terpikir kata berima, apalagi wajah Maria Ozawa.
Dalam benak berteriak dzikir dan sholawat walau mulut berkata “ini hanya hujan”. Aku ditanya ”masih lanjut?” aku jawab “Yak cuss”. Entah naluri dalam hati atau bisikan setan, tiba-tiba tanganku di pegang oleh laki-laki dengan umur yang sama denganku. Laki-laki yang menemaniku perjalanan dari malang hingga perjalanan menuju pos 3 ini. Jujur dalam hatiku pun merasakan nyaman walaupun aku bukan penyuka sesame jenis. Dia memegang tanganku seraya bertanya “kamu suka lagu apa?” lalu aku balas dengan pertanyaan “kalau anda?”. Dia langsung menjawab “Opik tombo ati”. Akhirnya kami berdua berjalan sambil menyanyikan “tombo ati iku limo sak wernane, moco al-qur’an angen-angen sak maknane”.
Berjalan terus sambil bergandeng tangan. Hingga menemui tikungan yang terhalang batu, ada suara langkah diiringi senda gurau. Bergegas kulepaskan tangan ku gandengan sambil sedikit kulempar tangannya kebelakang untuk menghindarkan fitnah. Entah apa yang  terjadi jika kami diketahui sedang bergandeng tangan di tempat gelap macam hutan lereng gunung lawu. Benar saja kami bertemu dua orang pendaki tanpa perlengkapan menuruni anak tangga pendakian. Sambil sedikit takut saya bertanya pada mereka “mau kemana mas?””Mau ke pos satu mas. Mari” sebelum dia pergi dia aku menyempatkan bertanya “mas pos tiga masih lama” dia jawab “oh di atas batu besar ini mas”. Bergegas sedikit berlaari menuju pos tiga yang mulai terlihat atapnya. Jantung seakan teraliri darah dari kaki dandi pompa lagi ke seluruh tubuh yang menghangatkan tubuh setelah di pos tiga tak lagi sendirian dan ditemani beberapa pendaki yang sudah dulu sampai di san.
Bersambung…