Kami jelaskan apa
sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami manusia-manusia yang tidak
percaya slogan. Patriotisme tidak mungkin tambah dari hipokritis dan
slogan-slogan. Seseorang dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau dia
mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan
mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat
dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami
naik gunung”
Saya mengawali tulisan ini dengan mengenalkan pada anda bahwa
dengan naik gunung kita bisa mendapatkan fisik yang sehat dan jiwa yang sehat.
Perjalanan yang membutuhkan banyak tenaga ditambah beban berat berisi
perbekalan yang memang harus dibawa, memaksa kita untuk meningkatkan stamina
dan energy dengan setiap hari latihan. Serta medan yang menanjak ditambah
kondisi alam yang tidak bisa diprediksi membuat kita terpaksa menguatkan mental
agar mampu ke puncak dan turun dengan selamat. Belum lagi menekan ego pribadi
jika harus memuncak bersama tim dan rekan.
Cemoro sewu sebagai langkah awal dalam menyusuri hutan lawu
yang saat ini sudah tidak lagi perawan. Sudah disiapkan jalur pendakian menuju
puncak berupa tupukan batu yang tersusun rapi menyerupai anak tangga tapi lebih
tinggi dari hotel Indonesia.
8 Juni 2012, Jam 4 sore waktu Magetan, aku tiba dengan Supra
Fit ku setelah berkendara selama 8 jam dari kota malang, bersama seorang teman
dan seperangkat perbekalan khas amatiran. Ya, bisa dibayangkan rasa panas dan
kapalan di sekitar pantat, setelah lebih kurang 250 kilometer diatas jok dengan
kapasitas dua orang dan dua tas ransel. Sebelum ke pintu masuk, kami sempatkan
menyambangi tukang cilok di pinggir jalan dusun ngancar desa plaosan, dimana pintu
pendakian cemoro sewu berada. Menikmati rasa cilok yang hangat di tengah
dinginnya udara lawu yang berkabut, rasanya seperti hidup tanpa hari Senin.
Andai akses internet seperti sekarang, pasti aku tidak hanya mampir di tukang
cilok. Sate kelinci dan bisnis “nikmat” ternyata menjadi ciri khas desa ini. “Sedikit
menyesal sih, tp beruntung juga gak nambahi dosa” gumamku saat menulis ini.
Penat duduk di atas jok sudah mulai rontok, aku mulai mencari
rumah warga yang bersedia aku repoti buat nitip kekasihku beroda dua bermerek Honda
yang masih setia menemaniku hingga 10 tahun lamanya. Kudapatkan rumah warga
yang cocok dengan tambahan fasilitas penitipan helm dan beberapa perbekalan
yang kurang dibutuhkan seperti celana dan alat penerangan. Dengan membayar tiket
sepuluh ribu rupiah perhari, aku pasrahkan Hondaku kepada pemilik rumah yang
kelihatannya penyabar dan penuh welas asih.
Setelah mengucap doa dan salam kepada pemilik rumah, aku keluar
dan berjalan ke arah kiri rumah menuju pintu masuk pendakian. Dalam perjalanan,
sepintas tampak seorang berbaju lurik menyanding udeng di bahunya, serta
menghiasi jarinya dengan akik warna merah sebesar rumah bekicot. Dalam hatiku
bergumam “Sedikit mantra dan doa selamat, mungkin bisa aku minta dari mbah ini”.
Berjalan semakin mendekat kearah pintu masuk, secara tiba-tiba ada yang
memangglku. “mas tiketnya tiga puluh ribu dolar dua orang”. “Inggih pak” jawabku
pada sosok baju lurik yang sempat kukira dukun. “selamat menikmati mas asalkan
jangan melanggar pantangan ya mas” imbuhnya.
Setelah ritual selfie
diri, tepat jam lima sore, kaki mulai melangkah masuk menuju jalur hutan lawu. Dengan
disambut kebun cemara dan permainan keluarga kami percaya diri buat menaklukkan
gunung yang katanya jantung pulau jawa. Gunung berkabut mistis dan lumayan sering
menawarkan kematian bagi pendaki yang kurang ajar. Awal perjalanan kami lalui
dengan tenang. Setingkatdemi setingkat berjalan menuju atas dengan sesekali
memotret diri, di titik titik yang dianggap pantas.
“Alhamdulillah sendang panguripan” gumamku. Merupakan suatu
pencapaian yang istimewa bagi amatir, yang sebenarnya belum mencapai ujung kuku
dari perjalanan menuju puncak. Setelah mengisi air yang kami anggap bertuah, lanjut
berjalan menuju pos dua yang letaknya lebih atas. Ditemani burung jalak yang seakan
menunjukkan arah puncak, kami berjalan dipayungi awan gelap menyisir gelapnya
maghrib. Semakin melangkah, semakin keatas, belum ada tanda-tanda muncul benih bintang
dari langit.
Pos dua, kami saat ini berada. “Sudah maghrib rupanya. Waktunya
sholat biar selamat” kataku. Aku pasang sarung yang telah dibawa dari rumah
untuk bersujud menghadapnya. “allohu akbar” langsung teringat “heh kiblatnya
mana”. Kubatalkan sholatku untuk sementara dan melihat kompas digital yang
terinstal di BlackBerry temanku. Setelah
mencoba beberapa kali membuka kompas, tetapi tidak terbuka. Alam memang
menyediakan segalanya bagi kita terkecuali layanan provider seluler saat di pos dua gunung lawu. Dengan berbekal ilmu
nekat ala Mcgyver, aku mencoba
menalar kiblat, dari arah kita masuk dan jumlah belokan. Saat akan mengucap
niat, awan yang tipis sedikit membuka dan memperlihatkan konstelasi bintang
gubung penceng yang menunjukkan arah tenggara. Kumantapkan hatiku kearah kiblat
setelah dua kali balik kanan. Sholat berjalan dengan khusyuk walaupun beralas plastik
yang ditumpuki sajadah.
Setelah memakan sepotong roti dan sebungkus beng-beng kami
melanjutkan perjalanan. Hari semakin gelap, ditambah angin kencang seraya
mengajak pohon untuk paduan suara. Suara alam dalam gelap mencekam menemaniku
selama perjalanan. Terasa titik air hasil kondensasi alam, mulai menyapa ramai
wajahku. Entah pikiran darimana tiba-tiba teringat kabar yang kubaca dari surat
kabar seminggu sebelumnya. Dua remaja ditemukan dengan mulut kaku terpengap di
jalur pendakian gunung lawu. Ya, dua orang pendaki tanpa peralatan lengkap
nekat menembus gunung lawu yang sarat suasana mistis dan magis. Hari semakin
malam, angin semakin kencang, butiran hujan semakin deras menghempas keras. Saat
itu, tak lagi terpikir sajak 80 kata, tak lagi terpikir kata berima, apalagi
wajah Maria Ozawa.
Dalam benak berteriak dzikir dan sholawat walau mulut berkata
“ini hanya hujan”. Aku ditanya ”masih lanjut?” aku jawab “Yak cuss”. Entah naluri dalam hati atau
bisikan setan, tiba-tiba tanganku di pegang oleh laki-laki dengan umur yang
sama denganku. Laki-laki yang menemaniku perjalanan dari malang hingga perjalanan
menuju pos 3 ini. Jujur dalam hatiku pun merasakan nyaman walaupun aku bukan
penyuka sesame jenis. Dia memegang tanganku seraya bertanya “kamu suka lagu
apa?” lalu aku balas dengan pertanyaan “kalau anda?”. Dia langsung menjawab “Opik
tombo ati”. Akhirnya kami berdua berjalan sambil menyanyikan “tombo ati iku
limo sak wernane, moco al-qur’an angen-angen sak maknane”.
Berjalan terus sambil bergandeng tangan. Hingga menemui
tikungan yang terhalang batu, ada suara langkah diiringi senda gurau. Bergegas kulepaskan
tangan ku gandengan sambil sedikit kulempar tangannya kebelakang untuk
menghindarkan fitnah. Entah apa yang terjadi jika kami diketahui sedang bergandeng
tangan di tempat gelap macam hutan lereng gunung lawu. Benar saja kami bertemu dua
orang pendaki tanpa perlengkapan menuruni anak tangga pendakian. Sambil sedikit
takut saya bertanya pada mereka “mau kemana mas?””Mau ke pos satu mas. Mari”
sebelum dia pergi dia aku menyempatkan bertanya “mas pos tiga masih lama” dia
jawab “oh di atas batu besar ini mas”. Bergegas sedikit berlaari menuju pos
tiga yang mulai terlihat atapnya. Jantung seakan teraliri darah dari kaki dandi
pompa lagi ke seluruh tubuh yang menghangatkan tubuh setelah di pos tiga tak
lagi sendirian dan ditemani beberapa pendaki yang sudah dulu sampai di san.
Bersambung…
