Senin, 29 Januari 2018

Salin Tempel


               

Suara gaduh tiba-tiba menjadi hening setelah waktu menunjukkan jam 08.00. Dia yang tadi kulihat riang, dengan candaan khasnya dan rambut lurus diikat keaatas, kini duduk kaku seakan paku yang menancap di papan kayu. “Kemarin, Marion Jola nyanyi lagu apa? ”atau hanya sekedar meminta lagu Havana, adalah dua buah basa-basi yang sudah kusiapkan saat di perjalanan tadi. Mulutkupun berharap berdialog ngalor-ngidul yang berakhir dengan tawa ngakak dari mulutnya. Sayang, berat kaki melangkah untuk menghampirinya, walau tak jauh hanya ukuran depa.
                Kembali teringat senyumnya, saat melambai padaku bak bendera tertiup angin. Senin, hari itu memang terasa lain. Sedikit berpaling dari pandangnku semula aku menatap luas dan dalam. Aku melihat pandangan-pandangan, lain dari hari biasanya. Tampak takut, muram, sedih, dan gundah. Kata khas “slamat pagi boskuh” yang sering terdengar kini tak lagi menggema. “Cek, cek, cek…”suara jam dinding, telah lama tak kudengar, kini seakan kembali dengan membawa mikrofon TOA serta amplifier milik masjid agung seberang jalan.
                Suara langkah khas sepatu pantofel terdengar keras dan menjauh. Disusul dengan suara riuh berfrekuensi rendah, khas orang berbisik rahasia. Mata tajam berkeliaran melempar pandangan pada sesuatu yang samar. Kertas melayang terlempar jatuh terjerembab lalu kembali dan berbeda. Dia, seseorang yang sangat tenang dan damai, kini tengah gelisah, seperti ayam ingin kawin. Kode jari dan sandi morse tak perduli itu ngawur atau sesuai standart internasional tengah keluar dari sarangnya. Dalam benak mereka, persetan dengan kejujuran harga mati. Sebuah nilai, mampu merubah sesuatu yang lain.
                Kembali suara derap pantofel dengan ritme khas,  kembali mendekat. Mata tajam, dan sandi jari, kini kembali bersembunyi. Dia, selalu dia dalam mata dan otakku. Kembali tenang, tak gelisah seperti saat mengawali pagi itu.
“Maaf tadi tanpa peringatan, sekarang selesai tidak selesai, mohon dikumpulkan.” Kembali suara riuh diselingi dengan gesekan kaki kayu dan lantai. Aku yang dari tadi melihatnya, kini terpaku menatap kosong kertas di depanku. Hanya nama, nomor absen, dan tanda tangan, tiga hal yang aku yakini kebenarannya. Dengan mengucap pasrah, ku berserah pada kehendakNya. Kuayunkan pensil Staestler tipe 2B mengisi lembar jawaban lima puluh soal sesudah terisi lima. Beriring bel sekolah aku dan dia melangkah bersama menuju pintu dengan berharapsegeradatang akhir pekan. 

Ingin

Hitam pekat arang jelaga
Angkat gala senandung pongah
Tajam sinis daun kamboja
Selupat cantik simpan hitamnya

Sadar hitam penuh arang
Hidung pengap abu membungkus
Tetap tatap jiwa riang
Tak sadar semakin terjerumus

Entah cahaya entah gelap
Sisi otak ingin menggugat
Nadi berdetak dalam pekat
Jauh ingin mendekat

Hati tergugah dalam petunjuk
Terlanjur sebatas leher
Tenggelam kelam tertumpuk
Semakin masuk semakin masuk