Suara gaduh tiba-tiba menjadi hening setelah waktu menunjukkan jam 08.00. Dia yang tadi kulihat riang, dengan candaan khasnya dan rambut lurus diikat keaatas, kini duduk kaku seakan paku yang menancap di papan kayu. “Kemarin, Marion Jola nyanyi lagu apa? ”atau hanya sekedar meminta lagu Havana, adalah dua buah basa-basi yang sudah kusiapkan saat di perjalanan tadi. Mulutkupun berharap berdialog ngalor-ngidul yang berakhir dengan tawa ngakak dari mulutnya. Sayang, berat kaki melangkah untuk menghampirinya, walau tak jauh hanya ukuran depa.
Kembali
teringat senyumnya, saat melambai padaku bak bendera tertiup angin. Senin, hari
itu memang terasa lain. Sedikit berpaling dari pandangnku semula aku menatap
luas dan dalam. Aku melihat pandangan-pandangan, lain dari hari biasanya.
Tampak takut, muram, sedih, dan gundah. Kata khas “slamat pagi boskuh” yang
sering terdengar kini tak lagi menggema. “Cek, cek, cek…”suara jam dinding,
telah lama tak kudengar, kini seakan kembali dengan membawa mikrofon TOA serta
amplifier milik masjid agung seberang jalan.
Suara
langkah khas sepatu pantofel terdengar keras dan menjauh. Disusul dengan suara
riuh berfrekuensi rendah, khas orang berbisik rahasia. Mata tajam berkeliaran melempar pandangan pada sesuatu yang samar.
Kertas melayang terlempar jatuh
terjerembab lalu kembali dan berbeda. Dia, seseorang yang sangat tenang dan
damai, kini tengah gelisah, seperti ayam ingin kawin. Kode jari dan sandi morse
tak perduli itu ngawur atau sesuai standart internasional tengah keluar dari
sarangnya. Dalam benak mereka, persetan dengan kejujuran harga mati. Sebuah
nilai, mampu merubah sesuatu yang lain.
Kembali
suara derap pantofel dengan ritme khas, kembali mendekat. Mata tajam, dan sandi jari, kini
kembali bersembunyi. Dia, selalu dia dalam mata dan otakku. Kembali tenang, tak
gelisah seperti saat mengawali pagi itu.
“Maaf tadi tanpa peringatan, sekarang selesai
tidak selesai, mohon dikumpulkan.” Kembali suara riuh diselingi dengan gesekan
kaki kayu dan lantai. Aku yang dari tadi melihatnya, kini terpaku menatap
kosong kertas di depanku. Hanya nama, nomor absen, dan tanda tangan, tiga hal
yang aku yakini kebenarannya. Dengan mengucap pasrah, ku berserah pada
kehendakNya. Kuayunkan pensil Staestler tipe 2B mengisi lembar jawaban lima
puluh soal sesudah terisi lima. Beriring bel sekolah aku dan dia melangkah bersama menuju pintu dengan
berharapsegeradatang akhir pekan.

W.A.W.. 😃
BalasHapuswaw apa hehehe....semangat nulis zah
HapusSuka...
BalasHapusBagus nih
terima kasih mbak wiwid...
HapusSaya jadi pengen belajar gaya penulisan macam begini, bagus 👍
BalasHapushehe mangga atuh neng
HapusBagus👌
BalasHapusterima kasih mbak udah mampir
Hapus