“Assalamualaikum, dedek pulang.”
kata seorang anak kecil bersemangat.
“Wa’alaikum salam, deek cuci kaki. Jangan
langsung ambil tempe.” Teriakku tiap kali dia datang. Namun tetap saja dia
mengunyah dengan nikmat.
“Dedek, nurut kalo dibilangin ibuk”
teriakku semakin kencang.
Tanpa berdosa dia balas senyum kecil
. Mulutnya yang tipis mirip mulutku dan matanya yang belo dihiasi alis tebal
dan rambut keriting, khas keluarga ayahnya.
“Ih,
anak ini terbuat dari batu atau besi sih? ” Pikirku.
“Dedek main ma, besok kan libur.” Sahut
seenak mulutnya.
“Dedeeeek, bantu mama bentaar.” Kataku
sambil membentak diiringi pintu terbuka dan menutup dengan keras. Sudah tak
terdengar lagi langkahnya, serasa percuma teriak-teriak siang hari itu. Aku disini
hanya menghela nafas dalam, merasakan bandelnya anak itu.
Benakku berkata “dasar keturunan pak Udin.”
Itulah kebiasanku sebagai ibu rumah
tangga, yang sudah kuhentikan semenjak dia pulang bermain dengan dibopong dengan kepala berlumuran darah dan tangannya
membawa setangkap anyelir dari taman tetangga.
Lima hari setelah tahun baru adalah
hari paling menancap di benak. Di umurku kedua puluh delapan tahun tepat adalah
hari terakhir dia senyum padaku dan aku membalasnya dengan bentakan marahku.
Darah di kaki ku terasa mengalir deras ke kepala, sehingga tertinggal rasa
dingin dan lutut berubah seempuk kapas.
Andai waktu itu ku belai kepalanya,
andai kutanya maksudnya, andai kucium keningnya saat pulang, andai ini, andai
itu, andai dia, andai aku andai. Seakan di otakku banyak pikiran yang mungkin
diwa oleh dara yang mengalir dari kaki tadi.
Mata ini kering, hanya menatap
kosong ke depan, setelah tau dia meninggalkan aku. Padahal umurnya belum genap
separuh umurku. Terakhir kuucapkan andai, andai waktu itu terulang, kan kubelai
kepalanya, kupeluk, kutanya lembut ke telinganya “dek, gak usah pergi, ibuk
masak tempe kesukaanmu.” Lalu kuantar memetik anyelir kesukaanku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar