“Kita tidak akan
pernah mampu menaklukan gunung, karena bukan gununglah yang kita taklukan,
melainkan diri kita sendiri.”
Christoper McCandles
pernah menuliskan kata-kata tersebut dalam buku hariannya selama perjalanannya dari
Amerika menuju Alaska. Seorang lulusan universitas ternama yang sedang mencari
arti kebahagiaan di tengah alam. Dengan membawa sedikit perbekalan dan rasa
percaya bahwa alam akan membantunya, berakhir dengan ditemukan tanpa nyawa oleh
pemburu sambil bersandar disamping otobus. Membusuk dengan menyisakan berat badan
tiga puluh kilogram.
Alam menyediakan segalanya. Air, tanah,
emas, udara. Alam menyuguhkan keindahan, kehidupan, dan kecantikan. Namun, dibalik
itu semua alam juga memberikan ketakutan, kegelapan, dan putus asa. Suatu yang
mampu kita manfaatkan dan sesuatu yang mematikan. Kita selalu diberi pilihan,
bersiap-siap dan bergerak, atau bergerak bodoh tanpa bersiap.
Dua orang yang hampir putus asa,
namun bersandiwara dengan mimik muka tegar, seakan baru saja mendapat setetes harapan
hidup di pos tiga pendakian. Aroma dupa dan bunga memistiskan suasana kekeluargaan
setelahbertemu pendaki lain yang sebelumnya sudah dua jam disana.
“Mas, siapa yang tidur” tanyaku.
Terlihat seorang berjaket kuning dan
mengenakan kerpus rajutan khas penjaja villa 9terlihatmeringkuk disamping bara
api. “Temenku mas kedinginan” Jawabnya.
Hypotermia, ya, itulah ancaman terbesar sekaligus penyebab
terbanyak pendaki lawu tewas. Sedikit pengetahuan tentang gunung, menyepelekan
kondisi alam, dan persiapan yang minim, merupakan awal mula orang terkena hypothermia. Seperti kondisiku saat itu,
dengan sisa perbekalan roti 4 sobek setelah berkurang dua potong di pos sebelumnya,sebungkus
kacang dua kelinci, dan dua bungkus beng-beng .Keputusan awal yang menitipkan
jaket dan celana ke penitipan motor, memang dapat mengurangi beban, tapi
menyiapkan diri untuk serangan hypothermia.
Setelah kupotong menjadi beberapa
bagian lalu kumakan sambil mengahangatkan diri dalam canda sesama pendaki. Sambil
menguatkan kaki agar mampu melangkah menuju tantangan selanjutnya. Tubuh mulai
hangat, disusul oleh hati. Mulai tampak semangat dalam otak untuk berpikir baik
tentang puncak. Jalan setapak dari batu berundak tadi seakan tak lagi tergambar
dalam bayang.
Hujan masih deras kurasa. Petir dan
angin menemani air yang telah turun dari langit. Pohon dan daun basah, belum
kering karena memang belum reda. Setelah tadi beristirahat sejenak ingin
rasanya menghangat disitu tapi sadar kalau pos 3 bukan tujuanku.
Berjalan kembali menyusuri hutan,
gelap dan disiram hujan, menjadi keputusan malam itu. Dengan sedikit berat,
berdua melangkah menuju arah atas, sambil berharap, bisa selamat sampai arah
pulang. Perjalanan dalam gelap dengan tetap menapaki jalan berbatu sambil
berdoa hujan menjadi gerimis dan gerimis menjadi bintang.entah sudah berapa
ribu langkah, doaku seakan terkabulkan.
Kini diatas pos empat, tepat di
tanah lapang hujan tak tampak wujudnya. Kulihat keatas sambil bersyukur karena
doaku terkabul. Lalu apa setelah ini? Sering ku mendengar orang berkata, “hati-hati
dengan doa mu.” Tanah lapang, itu berarti kaudapat melihat ujungnya karena taka
da penghalang disana, tetapi juga berarti kau dihadapkan dengan jalur yang
tanpa batas. Kau bisa memilih jalur sesuai dengan keinginanmu tanpa harus
mengikuti aturan. Memang kelihatannya menyenangkan namun sesungguhnya
mematikan.
Keindahan Bima Sakti yang kulihat
dari bumi tak sampai sepuluh menit aku rasakan. Harus mencari jalan ke puncak.
Tanpa arah yang jelas, aku terus mencari setapak yang tepat. Mulai berjalan
dari satu titik menuju semak-semak. Berjalan ke kanan yang kutemukan jurang. Berjalan
maju menembus semak. Jauh kedepan yang kutemukan gua. Memang doaku terkabul, Tuhan
menghentikan hujannya. Tapi tuhan masih mengujiku dengan rasa dingin yang
membuat rasa di jari-jariku hilang.
Begitulah manusia, saat datang hujan
berdoa agar berhenti, dan saat berhenti, meminta hujan. Dalam dingin aku
berpikir bahwa nyawaku tak sampai esok pagi. Tulang terasa kaku, kulit terasa
beku. “Apa salahku?”I bergumam dalam
hati. Terlalu remeh bagiku gunung Lawu pikirku saat berangkat. Dingin tak
tertahankan. Dengan bekal jaket dan kaos tipis di badan dan celana pendek tanpa
daleman. Rasanya hati ingin pasrah menyerah. Sambil kupaksa berjalan menahan
hawa dingin yang sangat mulutku komat-kamit membaca yang sudah kuhapal. Saat itu,
aku hanya berharap mati dalam keadaan islam.
Sedikit semangat aku kembali ke
titik awal dimana aku temukan jalan ini. Kuputari sekali lagi berharap ada
sebuah petunjuk. Sebelah kanan semak tumbuhan ras berry. Kutemukan jalan tertata yang tadinya terhalang dari
pandngan.
Aku berteriak “Lha ik.i” “Ow yo” balas teriak. Aku susuri jalan itu semoga jalan yang tepat
menuju posberikutnya. Teringat jelas anak tangga yang ukurannya lebih lebar,
lain dari sebelumnya. Dingin tetap terasa, dan menggerakkan rahang penyangga
gigi.
Jam 03.00 pagi telah sampai di
pos lima sebelum puncak. 5 gubuk yang sudah penuh dengan pendaki-pendaki dari
bawah gunung. Aku duduk di depan pintu gubuk terbesar, berharap dengan
keajaiban, pintu dapat terbuka. Beruntung tak menunggu lama, daun pintu
bergerak ke dalam. Seorang tua mempersilahkanku masuk, duduk dekat perapian.
Membayangkan dinginnya luar,
terobati dengan hangatnya perapian seperti seorang jomblo mendapat pacar pertamanya.
“Waaaaaooowww” rasanya tidak mungkin
bisa melewati malam berat tanpa perbekalan dan persiapan yang memadai. Tuhan
masih sayang, Tuhan masih sayang.
Setelah salat subuh aku menuju
bukit dekat jurang. Aku melihat kearah timur tampak garis putih melintang
cakrawala. Mulai berubah menjadi jingga kemerahan,memang tampak indah. Inilah alam
yang dibalik keindahannya, menyimpan keganasan tanpa kenal manja. Benar-benar
masih menempel di jidat pemandangan kala itu. Gunung kecil berkabut tampak
terlukis di dalam saraf-saraf mata. Gradasi sinar matahari yang tak mampu
dilukis dengan tangan tulang berbalut kulit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar