Rabu, 24 Januari 2018

Cemoro Sewu-Hargo Dumilah II

“Kita tidak akan pernah mampu menaklukan gunung, karena bukan gununglah yang kita taklukan, melainkan diri kita sendiri.”
                
            Christoper McCandles pernah menuliskan kata-kata tersebut dalam buku hariannya selama perjalanannya dari Amerika menuju Alaska. Seorang lulusan universitas ternama yang sedang mencari arti kebahagiaan di tengah alam. Dengan membawa sedikit perbekalan dan rasa percaya bahwa alam akan membantunya, berakhir dengan ditemukan tanpa nyawa oleh pemburu sambil bersandar disamping otobus. Membusuk dengan menyisakan berat badan tiga puluh kilogram.

Alam menyediakan segalanya. Air, tanah, emas, udara. Alam menyuguhkan keindahan, kehidupan, dan kecantikan. Namun, dibalik itu semua alam juga memberikan ketakutan, kegelapan, dan putus asa. Suatu yang mampu kita manfaatkan dan sesuatu yang mematikan. Kita selalu diberi pilihan, bersiap-siap dan bergerak, atau bergerak bodoh tanpa bersiap.

Dua orang yang hampir putus asa, namun bersandiwara dengan mimik muka tegar, seakan baru saja mendapat setetes harapan hidup di pos tiga pendakian. Aroma dupa dan bunga memistiskan suasana kekeluargaan setelahbertemu pendaki lain yang sebelumnya sudah dua jam disana.

“Mas, siapa yang tidur” tanyaku. Terlihat seorang  berjaket kuning dan mengenakan kerpus rajutan khas penjaja villa 9terlihatmeringkuk disamping bara api. “Temenku mas kedinginan” Jawabnya.

Hypotermia, ya, itulah ancaman terbesar sekaligus penyebab terbanyak pendaki lawu tewas. Sedikit pengetahuan tentang gunung, menyepelekan kondisi alam, dan persiapan yang minim, merupakan awal mula orang terkena hypothermia. Seperti kondisiku saat itu, dengan sisa perbekalan roti 4 sobek setelah berkurang dua potong di pos sebelumnya,sebungkus kacang dua kelinci, dan dua bungkus beng-beng .Keputusan awal yang menitipkan jaket dan celana ke penitipan motor, memang dapat mengurangi beban, tapi menyiapkan diri untuk serangan hypothermia.

Setelah kupotong menjadi beberapa bagian lalu kumakan sambil mengahangatkan diri dalam canda sesama pendaki. Sambil menguatkan kaki agar mampu melangkah menuju tantangan selanjutnya. Tubuh mulai hangat, disusul oleh hati. Mulai tampak semangat dalam otak untuk berpikir baik tentang puncak. Jalan setapak dari batu berundak tadi seakan tak lagi tergambar dalam bayang.

Hujan masih deras kurasa. Petir dan angin menemani air yang telah turun dari langit. Pohon dan daun basah, belum kering karena memang belum reda. Setelah tadi beristirahat sejenak ingin rasanya menghangat disitu tapi sadar kalau pos 3 bukan tujuanku.

Berjalan kembali menyusuri hutan, gelap dan disiram hujan, menjadi keputusan malam itu. Dengan sedikit berat, berdua melangkah menuju arah atas, sambil berharap, bisa selamat sampai arah pulang. Perjalanan dalam gelap dengan tetap menapaki jalan berbatu sambil berdoa hujan menjadi gerimis dan gerimis menjadi bintang.entah sudah berapa ribu langkah, doaku seakan terkabulkan.

Kini diatas pos empat, tepat di tanah lapang hujan tak tampak wujudnya. Kulihat keatas sambil bersyukur karena doaku terkabul. Lalu apa setelah ini? Sering ku mendengar orang berkata, “hati-hati dengan doa mu.” Tanah lapang, itu berarti kaudapat melihat ujungnya karena taka da penghalang disana, tetapi juga berarti kau dihadapkan dengan jalur yang tanpa batas. Kau bisa memilih jalur sesuai dengan keinginanmu tanpa harus mengikuti aturan. Memang kelihatannya menyenangkan namun sesungguhnya mematikan.

Keindahan Bima Sakti yang kulihat dari bumi tak sampai sepuluh menit aku rasakan. Harus mencari jalan ke puncak. Tanpa arah yang jelas, aku terus mencari setapak yang tepat. Mulai berjalan dari satu titik menuju semak-semak. Berjalan ke kanan yang kutemukan jurang. Berjalan maju menembus semak. Jauh kedepan yang kutemukan gua. Memang doaku terkabul, Tuhan menghentikan hujannya. Tapi tuhan masih mengujiku dengan rasa dingin yang membuat rasa di jari-jariku hilang.

Begitulah manusia, saat datang hujan berdoa agar berhenti, dan saat berhenti, meminta hujan. Dalam dingin aku berpikir bahwa nyawaku tak sampai esok pagi. Tulang terasa kaku, kulit terasa beku. “Apa salahku?”I bergumam dalam hati. Terlalu remeh bagiku gunung Lawu pikirku saat berangkat. Dingin tak tertahankan. Dengan bekal jaket dan kaos tipis di badan dan celana pendek tanpa daleman. Rasanya hati ingin pasrah menyerah. Sambil kupaksa berjalan menahan hawa dingin yang sangat mulutku komat-kamit membaca yang sudah kuhapal. Saat itu, aku hanya berharap mati dalam keadaan islam.

Sedikit semangat aku kembali ke titik awal dimana aku temukan jalan ini. Kuputari sekali lagi berharap ada sebuah petunjuk. Sebelah kanan semak tumbuhan ras berry. Kutemukan jalan tertata yang tadinya terhalang dari pandngan.

Aku berteriak “Lha ik.i” “Ow yo” balas teriak. Aku susuri jalan itu semoga jalan yang tepat menuju posberikutnya. Teringat jelas anak tangga yang ukurannya lebih lebar, lain dari sebelumnya. Dingin tetap terasa, dan menggerakkan rahang penyangga gigi.

Jam 03.00 pagi telah sampai di pos lima sebelum puncak. 5 gubuk yang sudah penuh dengan pendaki-pendaki dari bawah gunung. Aku duduk di depan pintu gubuk terbesar, berharap dengan keajaiban, pintu dapat terbuka. Beruntung tak menunggu lama, daun pintu bergerak ke dalam. Seorang tua mempersilahkanku masuk, duduk dekat perapian.

Membayangkan dinginnya luar, terobati dengan hangatnya perapian seperti seorang jomblo mendapat pacar pertamanya. “Waaaaaooowww” rasanya tidak mungkin bisa melewati malam berat tanpa perbekalan dan persiapan yang memadai. Tuhan masih sayang, Tuhan masih sayang.

Setelah salat subuh aku menuju bukit dekat jurang. Aku melihat kearah timur tampak garis putih melintang cakrawala. Mulai berubah menjadi jingga kemerahan,memang tampak indah. Inilah alam yang dibalik keindahannya, menyimpan keganasan tanpa kenal manja. Benar-benar masih menempel di jidat pemandangan kala itu. Gunung kecil berkabut tampak terlukis di dalam saraf-saraf mata. Gradasi sinar matahari yang tak mampu dilukis dengan tangan tulang berbalut kulit.


Hangatnya mentari mulai terasa, menandakan harus kembali berjalan. Kuitari tebing sebelah kiriku untuk menuju 3.265 meter dpl. Dengan perasaan berkesan kulangkahkan kaki lebar-lebar. Menyusuri jalan air dengan sedikit terpereset dan lecet yang kini sudah tak kurasa. Tetap melangkah karena puncak sudah diujung hidung. Tak sampai seribu langkah setelah diatas jalan air aku berdiri di atas tugu semen bertuliskan HARGO DUMILAH.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar