Minggu, 18 Februari 2018

Kehormatan vs Banci

Ini adalah sebuah cerita tentang perjalanan yang luar biasa. Menceritakan sakit, derita, jerit, dan nestapa. Sebuah perjalanan panjang dalam langkah umat manusia. Manusia yang merupakan debu dari debu-debu semesta. Kisah yang mampu menggetarkan hati, layaknya getaran yang dihasilkan gas buang pada dubur manusia.
“jalan masih tujuh kilometer lagi.” Ucapku pada orang disebelahku yang tadi sebenarnya ada di belakangku saat ban motor kami berisi angina secara sempurna. Tapi kini, ban motor kami hanya seperti gumpalan karet tak berdaya.
Dengan ukuran langkah manusia, perjalanan tujuh kilometer, memerlukan setidaknya dua puluh ribu langkah dengan estimasi satu langkah manusia adalah tiga puluh lima sentimeter. Pada saat langkah tersebut ditambah beban dengan mendorong Vespa Super keluaran tahun 1974, maka estimasi kalori yang dibutuhkan adalah sekitar 500 kilokalori per kilometer.
Secara hitungan kasar, tenaga yang didapatkan dari sepiring sarapan kami telah habis di dua kilometer pertama, kami mendorong motor. Struk belanja dan sebuah materai 6000 yang ada di dompet tak terlalu banyak membantu perjalanan berpeluh asin ini. baterai 0% disetiap telepon selular, membikin ngenes perjalanan ini.
Tetap kami jalani perjalanan ini dengan langkah terpaksa kuat. Kini sudah kami jalani empat kilo pertama tanpa rintangan berarti, kecuali kalori sisa sebagai bahan bakar tenaga semakin habis. Wajah pongah kami tampakkan dengan bangga menatap angkasa. Cobaan benar-benar terjadi saat perjalanan memasuki tengah lima kilo dari start ndorong motor.
Wajah cantik, kaki jenjang, tangan atletis, dan dada besar hasil implan, tanpa saya sadari ada di sekeliling kami. Keringat yang tadinya bercucuran, seakan berubah menjadi darah bening dan malam yang dingin bertambah dengan dinginnya otak kami. Dada berdegup layaknya berjalan di jalan makadam becek.
Hal tersebut diperparah saat ada seorang wanita dengan suara kemayu pria menyapaku dengan lembut. “Mas, Rp.25.000 yuk buat penglaris.” Dua ekor wanita jadi-jadian juga menghampiri kami, dimana kondisi kami saat ini yaitu, sedang tak kuat mengangkat nyawa sendiri. Dada semakin berdegup kencang layaknya ditembak jarak ketika kepungan mereka semakin mengecil dengan pusat di tengah adalah kami.
Kehormatan lelaki sejati terletak dari rasa kesetiakawanannya. Itu bisa dilakukan saat kondisi normal. Saat ini kondinya adalah lari atau mati. Pertaruhan yang sangat tak adil jika memilih kehormatan sebagai jalan hidup. Tanpa berpikir dua puluh tujuh derajat, kutunggal motor temanku dan yang punya untuk menyelamatkan diri. Tak sempat kutengok kebelakang, atau hanya sekedar tau nasib rekanku. Aku berlari dengan tujuan got terdalam di sekitar itu. Kumasuki got itu dan kutunggu saat aman dan berharap perlindungan dari yang kuasa.

Aku berhasil lolos malam ini, dengan sedikit peluh dan bau khas got perkotaan. Paling tidak keperjakaanku masih dalam kondisi aman. Entah temanku yang kutinggal saat dia memikirkan kehormatannya. Apakah dia memberontak atakuah justru malah menikmatinya? 

5 komentar: