Ini adalah sebuah cerita tentang perjalanan
yang luar biasa. Menceritakan sakit, derita, jerit, dan nestapa. Sebuah
perjalanan panjang dalam langkah umat manusia. Manusia yang merupakan debu dari
debu-debu semesta. Kisah yang mampu menggetarkan hati, layaknya getaran yang
dihasilkan gas buang pada dubur manusia.
“jalan masih tujuh kilometer lagi.” Ucapku pada
orang disebelahku yang tadi sebenarnya ada di belakangku saat ban motor kami
berisi angina secara sempurna. Tapi kini, ban motor kami hanya seperti gumpalan
karet tak berdaya.
Dengan ukuran langkah manusia, perjalanan tujuh
kilometer, memerlukan setidaknya dua puluh ribu langkah dengan estimasi satu
langkah manusia adalah tiga puluh lima sentimeter. Pada saat langkah tersebut
ditambah beban dengan mendorong Vespa
Super keluaran tahun 1974, maka estimasi kalori yang dibutuhkan adalah
sekitar 500 kilokalori per kilometer.
Secara hitungan kasar, tenaga yang didapatkan
dari sepiring sarapan kami telah habis di dua kilometer pertama, kami mendorong
motor. Struk belanja dan sebuah materai 6000 yang ada di dompet tak terlalu
banyak membantu perjalanan berpeluh asin ini. baterai 0% disetiap telepon
selular, membikin ngenes perjalanan ini.
Tetap kami jalani perjalanan ini dengan langkah
terpaksa kuat. Kini sudah kami jalani empat kilo pertama tanpa rintangan
berarti, kecuali kalori sisa sebagai bahan bakar tenaga semakin habis. Wajah
pongah kami tampakkan dengan bangga menatap angkasa. Cobaan benar-benar terjadi
saat perjalanan memasuki tengah lima kilo dari start ndorong motor.
Wajah cantik, kaki jenjang, tangan atletis, dan
dada besar hasil implan, tanpa saya sadari ada di sekeliling kami. Keringat
yang tadinya bercucuran, seakan berubah menjadi darah bening dan malam yang
dingin bertambah dengan dinginnya otak kami. Dada berdegup layaknya berjalan di
jalan makadam becek.
Hal tersebut diperparah saat ada seorang wanita
dengan suara kemayu pria menyapaku dengan lembut. “Mas, Rp.25.000 yuk buat
penglaris.” Dua ekor wanita jadi-jadian juga menghampiri kami, dimana kondisi
kami saat ini yaitu, sedang tak kuat mengangkat nyawa sendiri. Dada semakin
berdegup kencang layaknya ditembak jarak ketika kepungan mereka semakin
mengecil dengan pusat di tengah adalah kami.
Kehormatan lelaki sejati terletak dari rasa
kesetiakawanannya. Itu bisa dilakukan saat kondisi normal. Saat ini kondinya
adalah lari atau mati. Pertaruhan yang sangat tak adil jika memilih kehormatan
sebagai jalan hidup. Tanpa berpikir dua puluh tujuh derajat, kutunggal motor
temanku dan yang punya untuk menyelamatkan diri. Tak sempat kutengok
kebelakang, atau hanya sekedar tau nasib rekanku. Aku berlari dengan tujuan got
terdalam di sekitar itu. Kumasuki got itu dan kutunggu saat aman dan berharap
perlindungan dari yang kuasa.
Aku berhasil lolos malam ini, dengan sedikit
peluh dan bau khas got perkotaan. Paling tidak keperjakaanku masih dalam
kondisi aman. Entah temanku yang kutinggal saat dia memikirkan kehormatannya.
Apakah dia memberontak atakuah justru malah menikmatinya?
Haha.. Parah-parah
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusDih ... jijay!
BalasHapusMantap
BalasHapus25ribu.. ya ampun..ahahaha
BalasHapus