“Terima kasih
bu atas kepercayaannya, semoga rejekinya barokah.” Ucap Dimas dengan jelas dan
lancar. Maklum setiap harinya pekerjaannya memang demikian. Bertemu orang,
menyapa orang, bukanlah hal asing baginya. Peci putih, jenggot panjang, dan
celana cingkrang merupakan aksesoris ditubuhnya yang paling diingat orang pada
saat ini.
“Allahu akbar, allahu akbar. Allahu akbar,
allahu akbar.”Suara dari
TOA masjid. Dimas secara reflek menyalakan lampu sein kanan untuk menuju
sumber suara. Masjid berwarna hijau sebrang jalan raya Karang Ploso lebih
dipilih. Maklum area parkir luas dan aman menjdai pilihan orang yang sedang
membawa barang bawaan.
Setelah standart
samping motor Supra fit warna biru keluaran tahun 2007 dia duduk di
lantai batas suci. Melepas sepatu hitam dan kaus kaki putih untuk segera
menapaki tangga menuju ruang wudhu yang ada di bawah masjid.”Bismillah.” kata yang mengawali prosesi
bersuci, yang diikuti menaruh tangannya ke bawah pancuran air, dan mengawali
berwudhu dengan membasuh kedua telapak tangan.
Setelah menyelesaikan
tugas bercengkrama dengan penguasa jagat dia melanjutkan kembali putaran
rodanya menuju arah barat. Lima puluh majalah yang dibawa dalam tasanya adalah
target yang harus diselesaikan waktu itu. Dalam artian, dia harus menyapa
minimal lima puluh orang lagi dalam perjalanan hidup seharinya waktu itu.
“Alhamdulillah,
alhamdulillah, alhamdulillah” mulutnya senantiasa komat kamit menyebut namaNya.
Depan lapangan Karang Ploso dia kembali menyalakan sein dan menyebrang. “Assalamualaikum
“ teriaknya sambil mengetuk pintu rumah. “Iya silahkan masuk pintunya tidak
dikunci.” Ada suara sahutan wanita dari belakang pintu.
“Eh Mas Dimas,
silahkan masuk sudah ditunggu dari kemarin datengnya sekarang.” Kalimat pertama
yang keluar dari mulut wanita dengan piyama pendek dengan belahan dada sedikit
terbuka yang berusaha ditampakkan dengan cara menutupnya. “Iya bu,” langkah
dimas menuju dalam rumah dan duduk di kursi yang sebelumnya sudah ada di situ.
“Mas, tagihan
saya berapa ya?” tanyanya, seakan basa-basi garing. “Seratus ribu bu.”Jawab
dimas sambil tertunduk. Diberinya uang selembar warna merah bergambar Soekarno dan
Hatta. “iya bu terima kasih, semoga amalnya berkah. ”Jawab Dimas sambi beranjak
pergi. “Lho tunggu sebentar air kopinya belum jadi.””Maaf bu tagihan masih
banyak, assalamualaikum.””oh, iya waalaikum salam.”
Segera hari
ini, berlalu seperti biasa. Keliling majalah yang tentunya tak habis hari itu.
Jam setengah lima sore, Dimas segera menuju arah pulang. “Abi pulang” teriak
dari dalam rumah. “sudah pulang mas?” tanyi istri menyambut dan salim. “Ah,
capek dik banyak yang ketemu orangnya.” “Yauda, sabar mas, belum ambil gaji
semua mungkin” celetuk dari mulutnya yang tebal. Mata sipit dan hidung peseknya
benar-benar mengalihkan mataku dari yang lain.
Dialah wanita
yang untuknya nyawa pun rela ku berikat ke malaikat maut. Memandang wajahnya
benar-benar membuat payahku terbayar penuh. Bersamanya, tak membuatku lemah,
dan selalu kuat menghadapi batu panas Gunung Semeru. “Dek, selepas maghrib aku
berangkat mengaji.” “Iya mas.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar