Minggu, 18 Maret 2018

Jalan Setapak dan Setitik Cahaya (Sambung 1)


“Terima kasih bu atas kepercayaannya, semoga rejekinya barokah.” Ucap Dimas dengan jelas dan lancar. Maklum setiap harinya pekerjaannya memang demikian. Bertemu orang, menyapa orang, bukanlah hal asing baginya. Peci putih, jenggot panjang, dan celana cingkrang merupakan aksesoris ditubuhnya yang paling diingat orang pada saat ini.
“Allahu akbar, allahu akbar. Allahu akbar, allahu akbar.”Suara dari TOA masjid. Dimas secara reflek menyalakan lampu sein kanan untuk menuju sumber suara. Masjid berwarna hijau sebrang jalan raya Karang Ploso lebih dipilih. Maklum area parkir luas dan aman menjdai pilihan orang yang sedang membawa barang bawaan.
Setelah standart samping motor Supra fit  warna biru keluaran tahun 2007 dia duduk di lantai batas suci. Melepas sepatu hitam dan kaus kaki putih untuk segera menapaki tangga menuju ruang wudhu yang ada di bawah masjid.”Bismillah.” kata yang mengawali prosesi bersuci, yang diikuti menaruh tangannya ke bawah pancuran air, dan mengawali berwudhu dengan membasuh kedua telapak tangan.
Setelah menyelesaikan tugas bercengkrama dengan penguasa jagat dia melanjutkan kembali putaran rodanya menuju arah barat. Lima puluh majalah yang dibawa dalam tasanya adalah target yang harus diselesaikan waktu itu. Dalam artian, dia harus menyapa minimal lima puluh orang lagi dalam perjalanan hidup seharinya waktu itu.
“Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah” mulutnya senantiasa komat kamit menyebut namaNya. Depan lapangan Karang Ploso dia kembali menyalakan sein dan menyebrang. “Assalamualaikum “ teriaknya sambil mengetuk pintu rumah. “Iya silahkan masuk pintunya tidak dikunci.” Ada suara sahutan wanita dari belakang pintu.
“Eh Mas Dimas, silahkan masuk sudah ditunggu dari kemarin datengnya sekarang.” Kalimat pertama yang keluar dari mulut wanita dengan piyama pendek dengan belahan dada sedikit terbuka yang berusaha ditampakkan dengan cara menutupnya. “Iya bu,” langkah dimas menuju dalam rumah dan duduk di kursi yang sebelumnya sudah ada di situ.
“Mas, tagihan saya berapa ya?” tanyanya, seakan basa-basi garing. “Seratus ribu bu.”Jawab dimas sambil tertunduk. Diberinya uang selembar warna merah bergambar Soekarno dan Hatta. “iya bu terima kasih, semoga amalnya berkah. ”Jawab Dimas sambi beranjak pergi. “Lho tunggu sebentar air kopinya belum jadi.””Maaf bu tagihan masih banyak, assalamualaikum.””oh, iya waalaikum salam.”
Segera hari ini, berlalu seperti biasa. Keliling majalah yang tentunya tak habis hari itu. Jam setengah lima sore, Dimas segera menuju arah pulang. “Abi pulang” teriak dari dalam rumah. “sudah pulang mas?” tanyi istri menyambut dan salim. “Ah, capek dik banyak yang ketemu orangnya.” “Yauda, sabar mas, belum ambil gaji semua mungkin” celetuk dari mulutnya yang tebal. Mata sipit dan hidung peseknya benar-benar mengalihkan mataku dari yang lain.
Dialah wanita yang untuknya nyawa pun rela ku berikat ke malaikat maut. Memandang wajahnya benar-benar membuat payahku terbayar penuh. Bersamanya, tak membuatku lemah, dan selalu kuat menghadapi batu panas Gunung Semeru. “Dek, selepas maghrib aku berangkat mengaji.” “Iya mas.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar