“Assalamualaikum,
dek berangkat.” ”iya mas.” Jalan malam itu memang lebih gelap dari biasanya. “Assalamualaikum
warahmatullohi wabarokaatuh.” Sapaan ustadz mengawali kajian hari ini setelah
berakhirnya sholat maghrib jamaah. “wa alaikum salam warohmatullahi wa
barokatuh.””Bapak ibu sekalian har ini kita akan membahas mengenai fiqh zakat.”Pas, banyak sekali yang ingin kutanyakan.” Pikir
Dimas sambil menyulam kata dan merajut daftar kalimat tanya dalam benak.
“Tentunya
semua hadirin, sudah mengetahui fungsi dan arti zakat. Membagikan kebahagiaan
kepada mereka yang kesusahan. Dalam membagikan zakat ada delapan asnaf yang
telah disebutkan alquran. Mulai dari fakir, miskin, amil, budak, ghorim,
muallaf, fi sabilillah, ibnu sabil.” Paparan ustadz hingga sesi tanya jawab.
“Ustadz jika
seorang amil mendapat pemberian dari muzaki saat mengambil zakat, hukumnya
bagaimana?”tanya Dimas memulai pertanyaan.”tentu saja haram, hal ini sesuai
dengan riwayat saat sahabat nabi mengambil zakat di negeri syam. Saat itu, Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam memperkerjakan seorang laki-laki dari suku al-Azdi
yang bernama Ibnu Lutbiah sebagai pemungut zakat. Ketika datang dari tugasnya,
dia berkata: “Ini untuk kalian sebagai zakat dan ini dihadiahkan untukku”.
Beliau bersabda : ” Cobalah dia duduk saja di rumah ayahnya atau ibunya, dan
menunggu apakah akan ada yang memberikan kepadanya hadiah ? Dan demi Dzat yag
jiwaku di tangan-Nya, tidak seorangpun yang mengambil sesuatu dari zakat ini,
kecuali dia akan datang pada hari qiyamat dengan dipikulkan di atas lehernya
berupa unta yang berteriak, atau sapi yang melembuh atau kambing yang
mengembik”. Kemudian beliau mengangkat tangan-nya, sehingga terlihat oleh kami
ketiak beliau yang putih dan (berkata,): “Ya Allah bukan kah aku sudah
sampaikan, bukankah aku sudah sampaikan”, sebanyak tiga kali. ”.
“Cling,”
sebelum kajian berakhir tetiba gawai Dimas berbunyi, dengan bunyi khas chat whatsapp masuk. Dengan mengernyitkan
dahi dan mengelus jenggotnya, dia membuka chat yang telah sampai di gawai
tersebut. “Selamat malam mas Dimas.” Kalimat yang tertera dalam aplikasi
tersebut. Cuek, tak peduli dengan tulisan tersebut dan dimasukkan lagi ke dalam
saku celana.
Berjalan
pulang tanpa ada pikiran buruk. Bayangan Dimas melayang sampai dirumah dan
berharap ada yang menyambut dan mengajaknya ngobrol remeh. “Pak Dimas mari.” Sapa
ustadz dari belakang. “iya mari” jawab Dimas singkat.
“Cling ,”
sekali lagi masuk chat dari nomer yang sama.”benar ini pak Dimas?”
isi pesan tersebut. Dimas mulai tertarik membalasnya “iya benar ini Dimas, Ini
siapa ya?”.”Ini Rahma, yang tadi anda ambil donasinya.” Jawab pasan singkat
tersebut.
“Oh bu Rahma,
ada yang bisa saya bantu bu? Oh ya dapat nomer saya darimana bu?” balasku. “Dari
kartu nama yang kemarin saya dapat di selipkan majalah.” “oh iya, ada yang bisa
saya bantu, bu?” balasku lagi. “Hehehe, enggak, nomer ini saya simpan ya,
barangkali ada keperluan.”tulisnya. “Iya bu silahkan.” Tukasku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar