Minggu, 18 Maret 2018

Jalan Setapak dan Setitik Cahaya (Sambung 2)


“Assalamualaikum, dek berangkat.” ”iya mas.” Jalan malam itu memang lebih gelap dari biasanya. “Assalamualaikum warahmatullohi wabarokaatuh.” Sapaan ustadz mengawali kajian hari ini setelah berakhirnya sholat maghrib jamaah. “wa alaikum salam warohmatullahi wa barokatuh.””Bapak ibu sekalian har ini kita akan membahas mengenai fiqh zakat.”Pas, banyak sekali yang ingin kutanyakan.” Pikir Dimas sambil menyulam kata dan merajut daftar kalimat tanya dalam benak.
“Tentunya semua hadirin, sudah mengetahui fungsi dan arti zakat. Membagikan kebahagiaan kepada mereka yang kesusahan. Dalam membagikan zakat ada delapan asnaf yang telah disebutkan alquran. Mulai dari fakir, miskin, amil, budak, ghorim, muallaf, fi sabilillah, ibnu sabil.” Paparan ustadz hingga sesi tanya jawab.
“Ustadz jika seorang amil mendapat pemberian dari muzaki saat mengambil zakat, hukumnya bagaimana?”tanya Dimas memulai pertanyaan.”tentu saja haram, hal ini sesuai dengan riwayat saat sahabat nabi mengambil zakat di negeri syam. Saat itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperkerjakan seorang laki-laki dari suku al-Azdi yang bernama Ibnu Lutbiah sebagai pemungut zakat. Ketika datang dari tugasnya, dia berkata: “Ini untuk kalian sebagai zakat dan ini dihadiahkan untukku”. Beliau bersabda : ” Cobalah dia duduk saja di rumah ayahnya atau ibunya, dan menunggu apakah akan ada yang memberikan kepadanya hadiah ? Dan demi Dzat yag jiwaku di tangan-Nya, tidak seorangpun yang mengambil sesuatu dari zakat ini, kecuali dia akan datang pada hari qiyamat dengan dipikulkan di atas lehernya berupa unta yang berteriak, atau sapi yang melembuh atau kambing yang mengembik”. Kemudian beliau mengangkat tangan-nya, sehingga terlihat oleh kami ketiak beliau yang putih dan (berkata,): “Ya Allah bukan kah aku sudah sampaikan, bukankah aku sudah sampaikan”, sebanyak tiga kali. ”.
“Cling,” sebelum kajian berakhir tetiba gawai Dimas berbunyi, dengan bunyi khas chat whatsapp masuk. Dengan mengernyitkan dahi dan mengelus jenggotnya, dia membuka chat yang telah sampai di gawai tersebut. “Selamat malam mas Dimas.” Kalimat yang tertera dalam aplikasi tersebut. Cuek, tak peduli dengan tulisan tersebut dan dimasukkan lagi ke dalam saku celana.
Berjalan pulang tanpa ada pikiran buruk. Bayangan Dimas melayang sampai dirumah dan berharap ada yang menyambut dan mengajaknya ngobrol remeh. “Pak Dimas mari.” Sapa ustadz dari belakang. “iya mari” jawab Dimas singkat.
“Cling ,” sekali lagi masuk chat  dari nomer yang sama.”benar ini pak Dimas?” isi pesan tersebut. Dimas mulai tertarik membalasnya “iya benar ini Dimas, Ini siapa ya?”.”Ini Rahma, yang tadi anda ambil donasinya.” Jawab pasan singkat tersebut.
“Oh bu Rahma, ada yang bisa saya bantu bu? Oh ya dapat nomer saya darimana bu?” balasku. “Dari kartu nama yang kemarin saya dapat di selipkan majalah.” “oh iya, ada yang bisa saya bantu, bu?” balasku lagi. “Hehehe, enggak, nomer ini saya simpan ya, barangkali ada keperluan.”tulisnya. “Iya bu silahkan.” Tukasku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar