Senin, 20 Agustus 2018

Harapan yang Tertunda

     Sebuah harapan manusia sering tak sejalan dengan jalannya takdir penciptanya. Pernah merasa kecewa. Marah, tapi sebenarnya tidak tahu siapa yang salah. Gusar tapi seakan tak berdaya di peluk gundah.
     Kurang lebih, seperti itulah yang kurasakan, saat duduk di depan komputer, melihat hasil kerja kerasku selama 3 bulan yang lalu. Melalui tiga tes yang salah satunya adalah lomba renang dengan jarak 50 detik dari garis start. Berenang secepat Richard Sam Bera tak membuatku meraih posisi aman kempetisi dengan sepuluh ribu peserta.
     Hari diawali jam 07.00 pagi dengan memanasi Supra Fit biru menuju utara. Begitulah kegiatanku setelah tidak lagi bekerja di Surabaya tiga bulan yang lalu. Mencoba memperbaiki apa yang seharusnya menjadi baik. Mulai belajar lagi aturan-aturan baku kehidupan yang ditulis dalam kitab suci.
    Siapa yang tak tertarik mendengar santer pengumuman di media masa mengenai penerimaan pekerja pemerintah. Dengan gaji perbulan yang tentu cukup untuk makan, minum, dan menabung tentu menggoda idealisme bahwa wirausaha merupakan pekerjaan yang ideal.                Andaikan kucing memiliki otak, tentu dia bakal segera ke kelurahan untuk melengkapi berkas.
Sedikit demi sedikit mengumpulkan berkas dimulai dari termudah mendapatkannya. Yaitu fotokopi KTP KK. Esoknya perlahan tapi pasti merambah ke Surat Keterangan Catatan Kepolisian, dengan tanda tangan kapolresta malang. Sambil menunggu jadi, nge gas ke kampus untuk medapatkan stempel legalisir bertanda tangan direktur utama.
    Semua kudapatkan dalam tiga hari kerja dan sehari wara-wiri jalan protokol Malang. Tentu ditambah daftar online dan kirim berkas ke kantor pos terdekat. Jauh sebelum penerimaan administrasi, saya coba isi hari dengan persiapan memenuhi persyaratan terkahir, yakni wajib bisa berenang. Melebar dan memanjang di kolam renang menjadi agenda setiap hari.
     Sebulan berjalan tibalah saatnya ujian tertulis pertama. Dilalui dengan nilai tertinggi di kelasnya. Tiba tes kedua yakni, meniti lintasan olimpiade, lima puluh meter kedepan garis start. Sebelum detik ke enam puluh sudah menyentuh tembok finish.
      Tiba Saatnya pengumuman di tampilkan. Dengan hasil yang tidak memuaskan dan kalah dengan peringkat ke empat. Sebenarnya ingin menungkapkan kekesalan. Protes tapi ke siapa? Entah berapa hari, baru tersadar bahwa ada hikmah dibalik semuanya. Entah harus kemana lagi, yang jelas saat ini fokus menanamkan kening di hampir ujung lembaran sajadah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar