Minggu, 18 Maret 2018

Jalan Setapak dan Setitik Cahaya (Sambung 3)


“Assalamualaikum, dek ” suaraku sambil mengiringi ketuk pintu. “ waalaikum salam, iya mas bentar.” sahutnya diiringi suara langkahnya. Dibukakan pintu rumah yang telah dia tempati hari ini. Rumah hasil dari kerja kerasnya dan hasil jualan onlineshop istrinya.
“Mas, kemaren ibuk ke rumah, kangen Ana.” Kata istri Dimas. “Lho iya kah?kok gk ketemu?” jawabnya. “Ih, Mas Dimas sih, gak pernah di rumah.” Jawab sang istri. “hemm, ngomong aja kalo kamu kangen,” sahut dimas menggoda istrinya. ”hehe” ketawanya simpul. Ketawa yang menggantung dalam bintik buta matanya saat hampir terlelap.
“cling, mas.” Langsung aku lihat di widget whatsapp. Gawai aku buka, dari nomor yang sama seperti yang aku lihat selepas isak tadi. “oh bu Rahma, ngapain malam-malam, chat?” pikirku. “Ada apa mas?” tanya istriku. “Oh Cuma donatur” jawabku. Segera aku simpan gawaiku.
“ Mas ngantuk, ” “tidur dulu saja dek” sahutku. Seperti biasa tangan Dimas menekan tombol remot untuk nyalakan Televisi, dan saat itu Filmnya the dark night rises. Sambil iseng, tangannya membuka gawai yang ada di genggamnya. Entah jari ini tak mau kompromi, tetiba tertekan chat dari bu Rahma yang sebenarnya dihindarinya tadi. Memang sudah menjadi adatnya, harus jawab pesan yang sudah terbuka. “iya bu” jawabnya.
“Mas Dimas besok bisa minta tolong enggak buat ngambil lagi di rumah?” isi pesannya. “Iya bu bisa, kok ngambilnya setiap hari bu? Yang ini atas nama siapa?” tukas Dimas. “Atas nama pribadi, Mas.” Jawabnya.
“Oh siap bu, ibu bisa ditemui jam berapa?” tanyaku menyahut. “ Jam 7 pagi, kalau Mas Dimas tidak keberatan, malam ini juga gak papa kok mas.” Jawabnya.
“Mohon maaf bu tidak bisa kalau malam ini.”
“Tidak papa mas, saya gak ada yang marahi kok. ”
“Mohon maaf bu, jika anda memaksa, nomer ini saya blok.”
“Mas Dimas sudah beristri?”
“Iya bu, ”
“Andaikan  kita selalu dikelilingi oarang yang kita sayang.”
“Bukankah Semua orang selalu bersama orang-orang yang dia sayang?” jawab dimas.
“Tidak semua orang diberi anugerah seperti itu. Tidak semua beruntung seperti halnya Mas Dimas, yang saat ini mungkin sedang bergurau dengan istrinya, menikmati mandi malam karena air kencing anak balita.”
“Bukankah ibu telah bersuami?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar